Picture
Prabu Duryudana bersama Patih Sengkuni, Resi Durna, Dursasana, Kartamarma dan para punggawa negeri Astina membicarakan strategi untuk menghancurkan Pandawa. Atas saran dari Dursasana dan Patih Sengkuni, raja Astina memerintahkan Dursala untuk menumpas Pandawa dengan pusaka andalan Aji Gineng pemberian Resi Picaso. Keberangkatan Dursala ke negeri Amarta diiringi barisan Kurawa dibawah komando Patih Sengkuni.

Di negeri Amarta, Prabu Puntadewa, Werkudara, Arjuna, Nakula dan Sadewa menerima kedatangan Prabu Kresna dan Setyaki. Mereka membahas mimpi Prabu Kresna tentang malapetaka yang menerjang negeri Amarta. Kedatangan Punggawa mengabarkan bahwa negeri Amarta diserang Kurawa dibawah pimpinan Dursala. Werkudara, Arjuna dan Setyaki mencoba menghadapi Kurawa, namun mereka dapat dikalahkan oleh Dursala dengan Aji Pangrayangan. Prabu Kresna menasihati Werkudara, Arjuna dan Setyaki agar menyingkir dari amukan Dursala yang juga memiliki Aji Gineng yang sangat mematikan.

Abimanyu bersama Semar, Gareng, Petruk dan Bagong berangkat ke Pertapaan Cemara Sewu untuk menyusul Gatutkaca yang tengah berguru kepada Resi Seta. Di perjalanan langkah mereka mendapat gangguan makhluk halus prajurit Batari Durga, namun Abimanyu berhasil mengatasinya.

Di Pertapaan Cemara Sewu, Resi Seta menjelaskan Aji Narantaka yang telah dikuasai Gatutkaca. Lawan yang terkena pukulan Aji Narantaka, tubuhnya akan menjadi debu. Gatutkaca bersumpah jika ada wanita yang kebal Aji Narantaka akan diperistrinya. Kedatangan Abimanyu dan Punakawan mengabarkan bencana di Amarta akibat ulah Dursala dengan Aji Ginengnya. Gatutkaca, Abimanyu dan Punakawan berpamitan kepada Resi Seta. Di perjalanan Gatutkaca dicegat Dewi Galawati hingga terjadi perkelahian. Karena kebal terhadap Aji Narantaka Gatutkaca, Dewi Galawati diperistri Gatutkaca dengan berganti nama Dewi Sumpani.

Raja Astina menerima kabar gembira atas kemenangan Dursala menduduki ibukota Amarta. Niat Dursala membumihanguskan istana Amarta ditentang oleh Resi Bisma dan Adipati Karna, karena dirasa tidak manusiawi. Adipati Karna bergegas menyusul Dursala ke negeri Amarta. Terjadi pertengkaran antara Dursala dan Adipati Karna yang berlanjut perkelahian. Karena kesaktian Dursala, Adipati Karna melarikan diri pulang ke Awangga.

Di dalam istana Amarta, Prabu Kresna dan keluarga Pandawa berunding untuk mencari siasat mengalahkan Dursala. Kedatangan Gatutkaca mewartakan bahwa dirinya telah selesai berguru kepada Resi Seta dan mendapatkan Aji Narantaka. Gatutkaca bersedia menghadapi Dursala yang berada di halaman istana Amarta. Terjadilah perkelahian sengit antara Gatutkaca melawan Dursala. Ketika Dursala mengeluarkan Aji Gineng, Gatutkaca menghindar dengan cara terbang ke angkasa. Saat Dursala lengah, Gatutkaca menghantamkan Aji Narantakanya ke tubuh Dursala hingga tewas. Mengetahui kejadian ini, Dursasana dan prajurit Astina mengamuk, namun dapat dikalahkan oleh Werkudara dan anak-anak Pandawa. Akhirnya mereka berkumpul di negeri Amarta untuk memanjatkan syukur agung kepada Tuhan Yang Maha Kuasa atas keselamatan negara dari ancaman musuh dengan sesanti "Sura Sudira Jayanikangrat Swuh Brastha Tekaping Ulah Darmastuti" yang artinya Sekuat-kuatnya manusia kalau untuk kejahatan, tetap akan kalah oleh kebaikan.

Disarikan dari sumber
: http://id.shvoong.com/humanities/history/1961572-aji-narantaka-gatutkaca

This is your new blog post. Click here and start typing, or drag in elements from the top bar.
 


Comments

06/11/2011 00:33

Reply



Leave a Reply