Hangleluri Budaya Yang Adi Luhung, Wayang Kulit Gagrag Campurasa.
Picture

Pengaruh Wayang Kulit Terhadap Pendidikan Sekolah.

Di ero globalisasi seperti sekarang ini, seni lokal atau seni daerah mendapat tantangan berat untuk menghadapi pengaruh kesenian-kesenian modern (masa kini). Kesenian modern lebih digemari oleh masyarakat pada umumnya dibandingkan dengan kesenian daerah atau kesenian lokal.

Kesenian Modern mempunyai beberapa kelebihan diantaranya:
1. Praktis, tidak butuh perlengkapan yang banyak.
2. Ekonomis, biaya tidak mahal.
3. Efektif, bisa melayani segala bentuk permintaan misal organ tunggal.
4. Partisipatif, penonton bisa ikut aktif baik langsung maupun tidak langsung.
5. Komunikatif, ada hubungan langsung antara pelaku dengan penonton, istilah anak muda"nyambung".

Sedangkan kesenian daerah khususnya Seni Pedhalangan memiliki beberapa kelemahan yang membuat masyarakat modrn kurang bisa menerima, kelemahan itu diantaranya adalah:-Tidak praktis memerlukan sarana yang banyak, seperti gamelan, wayang kulit, tempat yg luas, biaya tidak murah, kurang partisipatif dari penonton, kurang atraktif.

Inilah yang menjadi tantangan atau kendala bagi kesenian lokal terutama seni pedhalangan. Padahal UNESCO Badan PBB Sedunia telah mengakui bahwa Wayang menjadi Karya Agung Budaya Bangsa Indonesia pada tanggal 07 November 2003.

Memang UNESCO tidak salah menilai seni pedalangan merupakan kesnian yang agung dan adi luhung, karena dalam pertunjukannya sarat dengan pendidikan moral, budi pekerti dan etika atau tatakrama selain menyuguhkan berbagai unsur seni yang sangat indah, misalnya seni musik, seni rupa, seni suara, seni sastra, seni tari, seni drama/theatrical.

Saya berpendapat dan mendukung jika Pelajaran Tatakrama dan Seni Pedhalangan menjadi salah satu kurikulum yang harus diajarkan dari Tingkar SD , SMP dan SMA. Karena didalam seni pedhalangan ini memuat tatakrama dalam bersosial dalam tatanan hidup keluarga, masyarakat dan bernegara.

Suatu contoh adanya status dalam pemerintahan dalam suatu pewayangan masih sangat kental sehingga unggah-ungguh bernegara dan berpemerintahan tetap dijaga dengan menganut aturan seperti:

a. TATA : Tahu aturan sehingga tidak akan melanggar hukum, tatanan agama dan tatanan masyarakat/sosial.

b. TITI : Mengetahui aturan dengan jelas dan detail, tidak hanya menerima laporan dari beberapa pihak yang belum tenti benar.

c. TITIS : memberikan dana atau pidana benar-benar pas kepada yang berhak menerimanya.

d. TUTUS : bisa mempersatukan beberapa sikap atau pandangan dan berbagai unsur dibawahnya.

e. TETES : janji dan ucapannya sesuai dengan fakta / kenyataan. Tabu jika mengingkari janji yang sdh diucapkan.

f. TATAS : bisa menyelsaikan berbagai masalah tanpa menimbulkan masalah.

Gambaran diatas kita bisa ambil hikmah dari Lakon Wahyu Makuthorama atau ajaran Sri Rama kepada Adiknya Bharata Raja Ayodya dan Ajaran Begawan Kesawasidhi kepada Raden Harjuna _ Ksatria Madukara.

* BERSAMBUNG ( Disarikan dari berbagai sumber ).









 


Comments




Leave a Reply